Arsip untuk Maret, 2008

08
Mar
08

TAWARSARI Gthu lohhhh..


Hai you semuanya yang berada di luar Tawarsari.Salam manis .Apa lho baik baik aja di sana.YOU HARUS katakan baik .I can memperkenalkan Tawarsariku tercinta.IN tawarsari terdapat komunitas muslim yang selalu berjaya di kalangan muslim.Pada kalangan penggila musik sudah banyak orang yang mengenal ban indi tawasari.DI bagian timur tawarsari itu adalah kalangan para penggila burung .DI bagian tengah nihh..ada komunitas anak muda islam tawarasari ,dibagian utaraadalah komunitas penggali kubur dan tukang becak ,DI bagian barat terdapat kalangan remaja anak punk yang anti lagu melllo.Dibagian selatan komunitas salon and anak kecil.DiTawarsari nni h terdapat kucingan .Kucingan itu bukansembarang kucingan tapi………Kucingan dengan pemilik Sudarr itu sudah terkenal di jajaran penjaja makanan di wonosari Bahkan Gunungkidul.Dikucingan Sudar tersedia banyak pilihan menu untuk dimakan SPERTI nasi kucing,cakar,gorengan,ikan bakar,lele,ayam goreng.bahkan cemilan yang diminati oleh para penggila kucingan di manapun.Walau tak seperti warung makan modern tapi kucingan Sudar itu sudah melekat di hati Pengunjungnya.IN Tawarsari tak ada yang mnyukai kangen band untuk itu seluruh remaja tawarsari mengajak semuanya untuk tidak suka dengan namanya kangenband.Berbagai prestasi telah dperoleh Tawarsari yaitu menjadi juara 6 kali berturut turut takbir keliling .Remaja tawarsari itu setia dengan kawannya jika tidak munafik.Anak anak sekarang di Tawarsari itu punk punk lhooooo.Itulah cerita singkat tentang tawarsari………………………………………………………………………MERDEKA TAWARSARI!!

06
Mar
08

KYOKUSHINKAI

 

karate.jpg

l.jpg  


kyokushinkai

    PERGURUAN mulai dirintis dengan hati-hati dan tekun di kota Kecamatan Batu – Malang, Jawa Timur oleh Nardi T.Nirwanto S.A. pada tanggal 7 Mei 1967. Tahun 1967 masih merupakan saat-saat penuh tantangan, curiga mencurigai satu sama lain masih mewarnai suasana Bumi Pertiwi ini, pergolakan masih terasa dan belum tercipta rasa ketenangan dan ketenteraman, apalagi keamanan di hati masyarakat Indonesia pada umumnya. Semua ini disebabkan karena Negara dan Bangsa Indonesia baru saja dilanda G – 30 – S PKI pada tanggal 30 September tahun 1965 yang sangat menggoncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sela waktu dua tahun setelah peristiwa itu masih membuat suasana mencekam, dan trauma masih melekat pada sebagian besar rakyat Indonesia karena peristiwa tersebut. Saling tuduh dan saling fitnah terjadi dimana-mana sekedar untuk menghabisi baik karier maupun kehidupan lawan, khususnya yang tak sanggup membela diri. Korban berjatuhan dan mungkin banyak dari mereka yang tidak pernah ikut dalam urusan berpolitik ini terkena imbasnya. Sebagian besar hanya ikut-ikutan dan menjadi korban permainan para politikus dan petualang kesempatan. Rakyat sengsara karena merasa terombang ambingkan oleh gejolak yang tak menentu, menakutkan, mendebarkan dan sangat mengerikan.Tiada sedikit halangan dan hambatan yang sulit untuk dielakan, tantangan bermunculan menghadang benih yang masih muda dan lemah ini, yang mulai merayap tumbuh diantara semak dan tanaman liar dan bahkan belukar berduri yang berada dimana-mana saat itu. Namun dengan segala tekad dan rasa percaya diri penuh ketabahan, benih ini terus tumbuh menembus serta mengatasi segala hambatan yang muncul dengan silih berganti. Sejak awal mula berdirinya Perguruan, telah ditanamkan rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh diantara warga, khususnya para pemuda di Batu waktu itu. Perguruan menanamkan sikap tertib dan disiplin yang tinggi serta rasa tanggung jawab yang besar untuk menghadapi lingkungan dan masyarakat umum yang masih sangat sensitif. Kegiatan kelompok karateka masih merupakan hal yang belum biasa, awam serta asing saat itu, apalagi di Kota Kecamatan seperti Batu. Kegiatan ini dianggap sebagai unsur yang bisa menimbulkan keributan dan kekacauan yang sangat tidak mereka harapkan. Dunia kecil karateka belum bisa diterima oleh dunia besar masyarakat awam. Saat itu dengan segala daya upaya, Perguruan berusaha untuk bisa menyesuaikan diri dan diterima secara terbuka oleh masyarakat sekitar dan penduduk kota Batu khususnya. Maka lahirlah dua buah MOTTO Perguruan: KARATEKA MENGHORMATI MASYARAKAT, MASYARAKAT MENGHARGAI KARATEKA dan MOTTO berikutnya yang berbunyi: KARATEKA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN LINGKUNGANNYA, BUKAN SEBALIKNYA. Karate sendiri secara nyata masuk Indonesia tahun 1964. Salah seorang pionir adalah Bapak Drs. Baud A.D.Adikusumo dari aliran Shotokan dan diikuti beberapa tokoh karate yang lain seperti Bapak Sabeth Muksin, Anton Lesiangi dan lain-lain. Mereka kembali ke Indonesia setelah menjadi mahasiswa di berbagai disiplin ilmu di Perguruan Tinggi di Jepang dan berlatih karate disana dari berbagai aliran karate seperti Shotokan, Gojukai dan Wadokai serta yang lain.Tetapi terbanyak adalah dari aliran Shotokan karena Shotokan ini memang mendominir perkaratean Jepang. Karena karate sebagai olah raga termasuk baru, maka bersama-sama mereka mendirikan PORKI, yaitu Persatuan Olah Raga Karate Indonesia, wadah untuk perkaratean di Indonesia. Dengan terbentuknya wadah ini, karate bisa diakui KONI, yaitu: KOMITE OLAH RAGA NASIONAL INDONESIA. Malang, si bayi bernama karate yang berindukkan PORKI ini terus ribut sejak kelahirannya. Kegaduhan terjadi tak henti-hentinya, saling tidak mau memberi dan menerima (Give and Take). Muncul sifat dan sikap yang menonjolkan diri paling benar dan saling mengklaim. Yang baru datang dengan tingkatan lebih tinggi menimbulkan permasalahan dan berbagai penyebab lain tentunya. Bisa dibayangkan, dari satu aliran saja dan aliran diluar Shotokan yang tergabung dalam WUKO, yaitu:World Union Of Karate Do Organizations bisa demikian runyam dan tidak bisa damai, apalagi terhadap Kyokushin Karate yang didirikan Master Oyama dengan sistim Full Body Contact (Secara resmi juga tahun 1964), suatu aliran yang terbentuk paling muda diantara aliran yang lain dan di Jepang sendiri memang disisihkan dan dikecilkan artinya, seperti peristiwa di Singapore, yaitu Mr.Peter Chong kurang rela kalau ada pribadi dari Indonesia, negara yang besar dan luas ini, muncul karateka Kyokushin yang mungkin bisa lebih mendominir Asia Tenggara. Demikian juga, mau tidak mau Perguruan ini terkena percikan-percikan dan imbas yang tidak membahagiakan. Mereka rata-rata di Jepang sudah mendalam memperoleh pengaruh untuk tidak simpatik kepada aliran baru ini, maka di Indonesia Perguruan inipun menjadi sasaran. Ini kenyataan dan bisa dibuktikan berita Media Cetak saat itu. Cemooh, ejekan dan pendiskreditan terhadap Perguruan yang masih muda ini terjadi, bahkan di mass media cetakpun muncul tulisan-tulisan yang sangat meremehkan dan sangat menyinggung perasaan, merendahkan secara terang-terangan keberadaan Master Oyama dan aliran Full Body Contactnya. Nardi selalu memberi sanggahan berdasarkan logika dan kenyataan. Logikanya, salah satu contoh, mungkinkah Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato waktu itu menjadi Presiden Kyokushinkai-kan sekiranya aliran baru ini KARATE GADUNGAN?!, dan walaupun hal ini terasa pahit, tetapi sangat menguntungkan pertumbuhan Perguruan. Dari perang berita ini, masyarakat umum makin mengenal Perguruan ini dan memang sudah menjadi hukum alam, siapa yang tertindas pada umumnya akan selalu lebih banyak memperoleh rasa simpatik. Tulisan Nardi di media cetak seperti KOMPAS, SINAR HARAPAN (waktu itu) sekarang SUARA PEMBARUAN dan Koran MERDEKA banyak memuat berita Perguruan ini sehingga Oyama Karate makin dikenal secaca luas. Dokumen pemberitaan media cetak itu masih tersimpan di Pusat setelah 30 tahun lebih keberadaannya. Kalau di Jawa Timur perguruan berusaha dengan sekuat tenaga menampilkan wajah karate yang manis, damai dan bersahabat agar mendapat simpatik masyarakat, di Ibu Kota karate tak henti-hentinya ribut dan saling gontok-gontokan, baik di pertemuan-pertemuan, di Kongres dan bahkan di Kejuaraan Umum yang ditonton masyarakat luas. Sungguh sayang. Semua ini sangat merugikan nama karate pada umumnya. Penilaian dan pandangan masyarakat luas bisa sangat negatif terhadap karate apalagi karate hal yang baru dan masih asing saat itu. Seorang tokoh masyarakat kelahiran Jawa Timur juga waktu itu, Bapak WIDJOJO SOEJONO, Pangdam VIII Brawijaya sangat prihatin melihat ini semua. Apalagi sebuah Perguruan yang tumbuh di Jawa Timur dari kota kecamatan Batu juga terkena imbasnya. Bapak Widjojo Soejono menyadari hal ini harus dihentikan dan perkaratean di Indonesia selayaknya hidup berdampingan secara rukun dan damai. Saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Ide ini terasa klop dengan pemikiran Bapak Soerono,seniornya dari KONI Pusat.




Maret 2008
S S R K J S M
     
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Bulan


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.